Perasaan Bintang
Dear pengagum bintang,
Orang bilang membalikkan telapak tangan itu mudah, padahal di dalamnya begitu banyak yang terjadi tanpa kasat mata.
Apalagi masalah perasaan, yang memang tidak pernah berlangsung sederhana.
Kau bilang bintangmu telah pergi, kemana ia sepertinya?
Satu hal tentang bintang, ia selalu bersinar di tengah gelapnya semesta, selayaknya ia mengisi ruang kosong di hati yang duka.
Bila ia memang hilang, hanya dua yang bisa kusebutkan.
Kau melepasnya pergi, atau bintang itu sendiri yang melepaskan diri.
Bagaimana ia bisa melepaskan diri, itu adalah hal yang penting.
Semua bintang di semesta awalnya adalah satu bintang yang sama.
Lalu semuanya meledak berbagi pada semesta.
Kesederhanaan ini lalu berkembang menuju kehidupan.
Dimana Hidrogen dan Helium pertama kali bertemu, tanpa banyak tanya dan paksaan, mereka bersatu.
Indah sekali bagaimana kedua atom ini tidak pernah mengenal satu sama lain dan menyatu tanpa tanya.
Seakan mereka tahu bahwa mereka dibuat untuk bersama.
Engkau dan bintang kecilmu berawal dari bintang yang sama.
Kita hanyalah debu debu kosmik yang berdansa bersama.
Bila kau merasa bintangmu pergi, hakikatnya ia tidak pernah pergi, ia telah memberi kehidupan padamu dan kepingan debu kosmik lainnya.
Menkonversi energi untukmu dalam menjalani hidup.
Mengubah terangnya menjadi kekuatan untukmu untuk menjadi bintang lainnya.
Aku tak tahu bila kau memang melepasnya pergi, urusan perasaan memang tidak pernah mudah.
Bahkan orang bijak pun selalu dibuat gundah karenanya.
Tapi aku tahu satu yang pasti, dunia selalu punya banyak waktu untuk orang yang ikhlas dan berdoa.
Maka aku berdoa bagimu dan untuk semua kepingan hati yang menunggu.
Dan ingat, jangan pernah takut akan gelap, karenanya lah engkau akan bersinar paling terang :)
*catatan kecil di bawah selimut malam, sambil kelaparan.